22 August 2008

Semoga Kau Tak Tuli Tuhan


Begitu halus tutur katamu

Seolah lagu termerdu

Begitu indah bunga-bungamu

Diatas karya sulam itu

Dengarlah detak jantung

Benihku yang ku tanam dirahim mu

Semua warna yang kita punya,

Segala rasa yang kita bina


Ku harap kesungguhanmu,

Kaitkan jiwa bagai bunga dikarya itu

Ku harap keikhlasanmu,

Sirami benih yang ku tabur ditamanmu


Oh jelas, rakit pagar semakin kuat tak goyah,

Walau diusik unggas


Pintaku pada Tuhan mulia

Jauhkan sifat yang manja

Bentuklah segala warna jiwanya

Diantara lingkup manusia

Diarena yang bau busuknya luka

Bukakan mata pandang dunia B'ri watak baja padanya Kalungkan tabah kala derita Semoga kau tak tuli Tuhan, Dengarlah pinta kami sebagai orangtuanya


:::: iwan fals ::::

18 August 2008

kataku katamu
canda menghentakan rasa
benarkah ... ???
aku melegitimasi tingkahku
dalam sapa menenggelamkan acuhku ...

07.30, labkomputer

engkau terdiam ?

diamu bukanlah bisu
diamu adalah lautan kata penuh lagu
diamu adalah pikirku
diamu kejutkan bening embunku

diamu adalah ilmu yang harus kumengerti
diamu adalah bisunya langitku
diamu adalah rengkuhan tanahku
diamu adalah desau angin yang harus ikuti
09.50,lab komputer

11 July 2008

MOHON DOA RESTU








:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
MOHON DOA RESTUNYA YA!!!
tapi mohon maaf ada ralat dikit mustinya SABTU 19 juli 2008 hehehe

03 July 2008

rengkuhan senja

pada rengkuhan senja bukan kecewa.
tergurat siang dengan angkuh penuh pesona
malam menyambut dalam gemintang bertaburan
senyum keindahan terhampar dalam makna yang begitu dalam


senyum ukhti

pada senjaku tergurat tanya
sedang apakh ukhtiku sekarang?
ahhh tahukah engkau?
aku merindu dalam sapaan cintamu


spion itu
kilasan masa lalu tehempas dihadapan..
kenapa harus terlinang air mata ?
ada tanya kepada pak sopir ketika melihat kaca spion
kenapa melihat kaca kiri yang menghardik ke belakang
kenapa melihat kaca kanan menyantuni langkah.

kenapa harus sering melihat?

sopir hanya tertawa
aku melihat kebelakang tapi aku tatap depan
lihatlah ada hembusan dibelakang yang membuatku nyaman untuk kedepan


Sujudku

aku merasa harus bersujud
bukan pada lingkaran kabut
ada hidup yang begitu indah
ada cinta yang terindah
ada rasa yang begitu menggugah

aku terdiam dalam tangis bahagia
dihadapanku ada sebuah langkah cinta
sepenggal lagi kumiliki seorang ukhti tercinta






19 June 2008

Sebagai seorang pengantin

Sebagai seorang pengantin, wanita lebih cantik dibanding seorang gadis
Sebagai seorang ibu, wanita lebih cantik dibanding seorang pengantin
Sebagai istri dan ibu, ia adalah kata-kata terindah di semua musimdan
dia tumbuh menjadi lebih cantik bertahun-tahun kemudian...

Syahdan, di Madinah, tinggallah seorang pemuda bernama Zulebid.Dikenal sebagai pemuda yang baik di kalangan para sahabat. Juga dalam hal ibadahnya termasuk orang yang rajin dan taat.Dari sudut ekonomi dan finansial, ia pun tergolong berkecukupan. Sebagai seorang yang telah dianggap mampu, ia hendak melaksanakan sunnah Rasul yaitu menikah. Beberapa kali ia meminang gadis di kota itu, namun selalu ditolak oleh pihak orang tua ataupun sang gadis dengan berbagai alasan.

Akhirnya pada suatu pagi, ia menumpahkan kegalauan tersebut kepada sahabat yang dekat dengan Rasulullah."Coba engkau temui langsung Baginda Nabi, semoga engkau mendapatkan jalan keluar yang terbaik bagimu", nasihat mereka.Zulebid kemudian mengutarakan isi hatinya kepada Baginda Nabi. Sambil tersenyum beliau berkata:
"Maukah engkau saya nikahkan dengan putri si Fulan?""Seandainya itu adalah saran darimu, saya terima.
Ya Rasulullah, putri si Fulan itu terkenal akan kecantikan dan kesholihannya, dan hingga kini ayahnya selalu menolak lamaran dari siapapun.

"Katakanlah aku yang mengutusmu", sahut Baginda Nabi."Baiklah ya Rasul", dan Zulebid segera bergegas bersiap dan pergi ke rumah si Fulan.Sesampai di rumah Fulan, Zulebid disambut sendiri oleh Fulan"Ada keperluan apakah hingga saudara datang ke rumah saya?" Tanya Fulan."Rasulullah saw yang mengutus saya ke sini, saya hendak meminang putrimu si A." Jawab Zulebid sedikit gugup.

"Wahai anak muda, tunggulah sebentar, akan saya tanyakan dulu kepada putriku." Fulan menemui putrinya dan bertanya, "bagaimana pendapatmu wahai putriku?"Jawab putrinya, "Ayah, jika memang ia datang karena diutus oleh Rasulullah saw, maka terimalah lamarannya, dan aku akan ikhlas menjadi istrinya."Akhirnya pagi itu juga, pernikahan diselenggarakan dengan sederhana. Zulebid kemudian memboyong istrinya ke rumahnya.

Sambil memandangi wajah istrinya, ia berkata," duhai Anda yang di wajahnya terlukiskan kecantikan bidadari, apakah ini yang engkau idamkan selama ini? Bahagiakah engkau dengan memilihku menjadi suamimu?"Jawab istrinya, " Engkau adalah lelaki pilihan rasul yang datang meminangku. Tentu Allah telah menakdirkan yang terbaik darimu untukku. Tak ada kebahagiaan selain menanti tibanya malam yang dinantikan para pengantin."

Zulebid tersenyum. Dipandanginya wajah indah itu ketika kemudian terdengar pintu rumah diketuk. Segera ia bangkit dan membuka pintu. Seorang laki-laki mengabarkan bahwa ada panggilan untuk berkumpul di masjid, panggilan berjihad dalam perang.Zulebid masuk kembali ke rumah dan menemui istrinya."Duhai istriku yang senyumannya menancap hingga ke relung batinku, demikian besar tumbuhnya cintaku kepadamu, namun panggilan Allah untuk berjihad melebihi semua kecintaanku itu. Aku mohon keridhoanmu sebelum keberangkatanku ke medan perang.Kiranya Allah mengetahui semua arah jalan hidup kita ini."Istrinya menyahut, "Pergilah suamiku, betapa besar pula bertumbuhnya kecintaanku kepadamu, namun hak Yang Maha Adil lebih besar kepemilikannya terhadapmu. Doa dan ridhoku menyertaimu"

***Zulebid lalu bersiap dan bergabung bersama tentara muslim menuju ke medan perang. Gagah berani ia mengayunkan pedangnya, berkelebat dan berdesing hingga beberapa orang musuh pun tewas ditangannya. Ia bertarung merangsek terus maju sambil senantiasa mengumandangkan kalimat Tauhid...ketika sebuah anak panah dari arah depan tak sempat dihindarinya. Menancap tepat di dadanya. Zulebid terjatuh, berusaha menghindari anak panah lainnya yang berseliweran di udara. Ia merasa dadanya mulai sesak, nafasnya tak beraturan, pedangnya pun mulai terkulai terlepas dari tangannya. Sambil bersandar di antara tumpukan korban, ia merasa panggilan Allah sudah begitu dekat. Terbayang wajah kedua orangtuanya yang begitu dikasihinya. Teringat akan masa kecilnya bersama-sama saudaranya. Berlari-larian bersama t! eman sepermainannya. Berganti bayangan wajah Rasulullah yang begitu dihormati, dijunjung dan dikaguminya. Hingga akhirnya bayangan rupawan istrinya. Istrinya yang baru dinikahinya pagi tadi. Senyumyang begitu manis menyertainya tatkala ia berpamitan. Wajah cantik itu demikian sejuk memandangnya sambil mendoakannya. Detik demi detik, syahadat pun terucapkan dari bibir Zulebid. Perlahan-lahan matanya mulai memejam, senyum menghiasinya....Zulebid pergi menghadap Ilahi, gugur sebagai syuhada.***

Senja datang
Angin mendesau,
sepi...
Pasir-pasir beterbangan...
Berputar-putar...

Rasulullah dan para sahabat mengumpulkan syuhada yang gugur dalam perang. Di antara para mujahid tersebut terdapatlah tubuh Zulebid yang tengah bersandar di tumpukan mayat musuh. Akhirnya dikuburkanlah jenazah zulebid di suatu tempat. Berdampingan dengan para syuhada lain.

Tanpa dimandikan...
Tanpa dikafankan...
Tanah terakhir
ditutupkan ke atas makam Zulebid.Rasulullah terpekur di samping pusara tersebut.Para sahabat terdiam membisu.Sejenak kemudian terdengar suara Rasulullah seperti menahan isak tangis. Air mata berlinang di dari pelupuk mata beliau. Lalu beberapa waktu kemudian beliau seolah-olah menengadah ke atas sambil tersenyum. Wajah beliau berubah menjadi cerah. Belum hilang keheranan shahabat, tiba-tiba Rasulullah menolehkan pandangannya ke samping seraya menutupkan tangan menghalangi arah pandangan mata beliau.

Akhirnya keadaan kembali seperti semula.Para shahabat lalu bertanya-tanya, ada apa dengan Rasulullah."Wahai Rasulullah, mengapa di pusara Zulebid engkau menangis?"Jawab Rasul, "Aku menangis karena mengingat Zulebid. Oo..Zulebid, pagi tadi engaku datang kepadaku minta restuku untuk menikah dan engkau pun menikah hari ini juga. Ini hari bahagia. Seharusnya saat ini Engkau sedang menantikan malam Zafaf, malam yang ditunggu oleh para pengantin."

"Lalu mengapa kemudian Engkau menengadah dan tersenyum?" Tanya sahabat lagi." Aku menengadah karena kulihat beberapa bidadari turun dari langit dan udara menjadi wangi semerbak dan aku tersenyum karena mereka datang hendak menjemput Zulebid," Jawab Rasulullah."Dan lalu mengapa kemudian Engkau memalingkan pandangannya dan menoleh ke samping?" Tanya mereka lagi."Aku mengalihkan pandangan menghindar karena sebelumnya kulihat, saking banyaknya bidadari yang menjemput Zulebid, beberapa diantaranya berebut memegangi tangan dan kaki Zulebid. Hingga dari salah satu gaun dari bidadari tersebut ada yang sedikit tersingkap betisnya...."***

Di rumah, istri Zulebid menanti sang suami yang tak kunjung kembali. Ketika terdengar kabar suaminya telah menghadap sang ilahi Rabbi, Pencipta segala Maha Karya.

Malam menjelang...
Terlelap ia, sejenak berada dalam keadaan setengah mimpi dan dan nyata
.Lamat-lamat ia seperti melihat Zulebid datang dari kejauhan. Tersenyum, namun wajahnya menyiratkan kesedihan pula.
Terdengar Zulebid berkata, "Istriku, aku baik-baik saja. Aku menunggumu disini. Engkaulah bidadari sejatiku. Semua bidadari disini apabila aku menyebut namamu akan menggumamkan cemburu padamu.... "
Dan kan kubiarkan engkau yang tercantik di hatiku

Istri Zulebid, terdiam.Matanya basah...Ada sesuatu yang menggenang disana..Seperti tak lepas ia mengingat acara pernikahan tadi pagi..Dan bayangan suaminya yang baru saja hadir..Ia menggerakkan bibirnya.."Suamiku, aku mencintaimu...Dan dengan semua ketentuan Allah ini bagi kita..Aku ikhlas....

Somewhere over the rainbow, way up high
There's a land that I heard of once on a lullaby
Somewhere over the rainbow, skied are blue
And the dreams that you dare to dream
really do come true..

Dan,Akan kemanakah kumbang terbang
Pada siapa rindu mendendamKekasih yang terkasihPencinta dan yang dicinta
Semua berurai air mataSedih, ataukah bahagia.....?***