14 May 2008

Kau Sebut Kerinduan Angin II

Garis Grafis


bagaimana dapat kau
lukis masa depan

dengan jemari lukamu?

segaris wajah
diarsir waktu
ribuan bayang-bayang.



Siapa Yang Merahasia Dengan Senyumnya

siapa yang merahasia, dengan senyumnya
pada muram yang tersisa, isak semalam

di manakah kan ditemukan surga, dalam peta
mungkin jemari lentik, menunjuk

pada gerai hitam, rambut perempuan
bergelayut angan, seperti kanak-kanak yang riang

celoteh tak habis, dari bening mata
berkejaran, berlarian, ke ujung cakrawala

impian terbubuh, tapi ingatan mengaduh
di manakah kan ditemukan surga, dalam peta

mungkin pada senyum, disimpannya rahasia

//CP kau sebut kerinduan

ndak sekedar link kalo gitu
nanangsuryadi

13 May 2008

Sebagai Sunyi Puisi

sebagai sunyi puisi, pusaran dalam dir
demikian labirin, di mana jawab

sebagai cahaya
tapi di mana tepi? sepi memagutku sendiri


Kusapa Engkau Dengan Wangi Bunga
kusapa engkau, sayangku, dalam wangi bunga
dieja diri di petang hari,

ini percik kan jadi api, mengobar abadi?
atau bakar diri jadi puing menjadi

: mengabu cintaku

Sketsa Alir Waktu

demikianlah alir itu, bersama waktu
adalah butir bening dari mata,

di mana bersumber? gemericiknya sampai,
dalam kenang, menelusur pada mula, pada kata
: hati

Ada Yang Mengaduh Pada Matanya
ada yang mengaduh pada matanya, sepercik bara yang meletik, dari
sebuah entah, di pagi yang gugup

segurat resah dituliskan demikian rapi

halaman membuka halaman terbuka mata sebagai gelombang tak henti
menerjangnerjang di mana kau simpan rahasia
sebagai senyummu
rona merah di pipi tak ada jawab yang kekal

Serindu Mawar Menggambar Rerumputan
sebara asmara merekah rekah semerah mawar ditabur-tabur dialir sampai ke muara. o, sebara rindumu dilecutlecut matahari. tuangkan ke dalam gelas secoklatcoklat agar mengentalngental cerita.
pada ketukan berikutnya: tak ada anggrek di hutan. ajaib. siapa
memetik impian. seribu bulan. seputihputih anggrek menghilanghilang.
o, engkau. sepi menggambari rerumputan

Tak Ada Yang Harus Menangis Malam Ini
tak ada yang harus menangis malam ini. seperti berulang kali kita terima kekalahan dengan rendah hati. mari, ini mimpi seteguk lagi.

tak ada yang harus menangis malam ini. memang akan begini. mimpi kan menepi. kau dan aku akan pergi. melebur ke dalam sunyi. diri sendiri.


Butir Hujan
Seperti butir hujan, yang menerpa kepala dan wajahmu
Menguyupkan kenang

Jangan berlari tergesa

Ini cuma secatat pendek dari usiamu
Mungkin sebaris dari puisi, di buku hari-hari

Seperti hujan, di matamu

Sederet nasib dikekalkan sendiri
Tunduk kepada kehendak, mengguyur tak henti

Tapi sebutir hujan kuhapus, dari pipimu

Langit yang gelap, kubisiki
: jangan menangis lagi

Ditikam Kebisuan

sepi, kebisuan menikamku, dengan segala kenang
hingga malam adalah tawa meluka,
kata, menjadi ilusi, mimpi jarak merapat segera
ini malam menusuki

: diri



12 May 2008

Kau Sebut Kerinduan Angin 1

Kenangan Yang Memburu

seperti ada yang mengetuk, sebuah lampau
demikian kenang tak terusir ke segala tiada


o, mengapa waktu tak habiskan segala mimpimu
ah, engkau yang menelusuri jejak pada puisi
lelaki yang menulis dengan airmatanya


o, mengapa waktu tak melekangkan segala rindu dendammu
demikian, kubaca ketukan pada pintu, sebuah lampau
kenang memburumu, kenang memburumu!

Sebagai Kesunyian

sebagai kesunyian. demikian akrab mencintai. di sudut yang tersisa dari segala kenangan. disusun bata demi bata mimpi sendiri. hingga jadi menara. menjulang ke langit sepi.

o, bisikmu. di angin lalu. kerinduan diterbangkan. ke angkasa senyap. tiada jawab

aku adalah kegelisahan


aku adalah kegelisahan
takluk di tatap mata

sedanau cintamu

gelisah yang api
takluk di bening mata

sedanau cintamu

Negeri Cinta

akulah negeri yang kau cari detik demi detik dalam kata kata meneulusup ke dalam relung dada menelusup lewat tatap matamu yang rindu bicara agar cinta tak habis agar gairah tak habis agar mimpi mimpi tak habis agar tak darah matahari menangis agar tak pedih dipanggang api abadi agar laksana mimpimu!

Seputih Lupa Sebiru Ingatan

Seputih lupa, katamu. Tapi ingatan berwarna-warna. Dengan jemari kulukisi kanvas waktumu. Hingga sorot matamu menerawang menerbang ke masa lalu. Terowongan yang tak habis kau telusuri. Hingga warna segala warna memasuki tidurmu. Mimpimu yang berwarna. Mungkin biru. Ingatan yang biru.

Ingatan demikian biru. Seperti langit. Seperti laut. Seperti rindu dari masa lalu. Tapi ada yang ingin menghapus segala kenang. Seputih lupa, katamu. Di sudut mata. Menggenang butir airmata.

Kecemasan Itu Bermula Dari…

kecemasan itu bermula dari keraguan, kesangsian menatap masa depan
hingga engkau merasa takut di sampingku, berjalan di sisiku

kecemasan itu datang bermula dari keraguan, menatap jalan berliku
jauhnya, mungkin kau rasa aku tak sanggup menjadi pelindungmu

kecemasan itu bermula dari keraguan, seperti kuintip hadir di tatap
matamu, sayangku...


Melukis Wajah Bidadari

bagaimana aku dapat melukis wajah, bidadari dengan selendang tarian
tersenyum padaku? jemarinya meliuk menandak, dongeng teramat asing

mungkin dari surga, impian yang hilang, ia bermula


Batu Airmata

Di puncak diam. Di perih rindu. Mendebar-debar jejantung. Batu menangis. Di sela-sela sunyi sendiri. Tangis sebagai gerimis.
Engkau menyapaku.
Sampaikan salam pada penghujung hari. Airmata mencurah dalam rindu. Tapi beku dalam waktu.

Dunia demikian dikhawatirkanmu.
Sebagai haru tersampai. Ingin gapai. Mimpi tak usai. Menderai ingatan diterpa angin lalu. Lelambai tangis batu. Ditempa waktu. Sebagai gerimis.

Engkau menyapaku.


Ingatan Dari Masa Lalu

Aku pernah mencintaimu. Kau tahu. Aku pernah sungguh merindu dirimu. Kau tahu. Di baris sajak. Mengekal dongeng airmata. Derita dan bahagia. Sebagai peta yang kuberi tanda. Di mana aku berada. Dalam kerling matamu. Di baris alismu. Di lengkung senyummu. Sepenuh cinta. Setulus doa. Di gelincir mimpi-mimpi. Mengembun di hijau subuh. Terbubuh namamu. Terbubuh di tugu waktu. Dari masa lalu. Ingatanku.


Seorang Yang Menyimpan Kisahnya Sendiri

Ada yang menyimpan kisahnya sendiri. Di derai daun-daun jatuh. Sebuah taman kota. Dingin angin memagut. Gerimis menyapa. Sesorot mata yang jauh. Ke silam yang riuh. Di dada sendiri. Di ingatan sendiri.

Tapi mata adalah jendela. Kutemu engkau menangis. Sendiri. Di sudut lampau. Mengekal bayang. Mengekal ingatan.

Di baris sajak. Segores luka menyimpan jejak. Dirimu.


Pudar Bintang

tapi engkau bukan lagi bintang yang terang bercahaya. engkau demikian lindap. di harap yang merapuh. di dada lelaki.
tak ditemukan binar cahaya. dari mata yang menyimpan rahasia sendiri. jejak tak terpeta. di dadamu. sebagai galau di lubang hitam.

telah redup bintang. pudar. tersedot ke kelam tak berkesudahan.


cp: http://nanangsuryadi.web.id/

terdiam sesaat dalam semalam

assalamuaikum wr.wb
12 mei 2008 menjelang berbuka ( bukan menjelang maghrib habisnya aku merasa gagal puasa hari ini )

ikhtiar ilmu tersampaikan dalam pesan singkat yang udah pasti aku duga sejak lama
keindahan sapa dari seorang ukhti, letih baginya, resah jiwanya, takut langkahnya
itu yang terbaca, itu yang terungkap, itu yang tersingkap
aku hanya tersnyum mengingkari kata hati, lantunka sejuta sapa penuh makna ( dasar bodoh )

17.38
waktunya berbuka n lanjutin nonton one peace, trus masih membual kata -kata
sholat maghrib tertunda dulu ( emang iamnya lagi kacau, makan dulu yang penting )
maghrib duluuuuuuuuuuuu !!! duh ibu dah teriak 2x akhirnya maghrib juga pukul 18.20 :D

20.00
dari habis isya cuman terdiam di ruang sholat,,
orang liat pasti dzikir.. hehhehe kan taat ibadah..
yg tahu lagi pegang hp baca2x pesan n main game ( dasar bodoh )

22.20
aku ndak tahu udah tertidur berapa lama.. sarung masih melekat sajadah jadi bantal ( astaghfirullah emang gini nih kalo lagi futur- kata apaan ya ini )
buat cofeemix (esoknya ibu marah2x aku habisin 7 cofeemix heheeh)
nyalain computer, niat hati mau buat tugas shortcut firefox yang diklik heheeh lagi lagi aku ndak tahu yg kulakukan, browsing sana sini akhirnya dapat senyum yg penuh inspirasi

ini nih copy pastenya

Tentang Jilbab
Seorang ikhwah baru saja menempati kostnya yang baru.
Ia sendirian di kamar melepas lelah sambil menatap langit-langit. Kesibukan menyelenggarakan training keislaman di Musholla tadi membuat ia baru bisa merebahkan badannya sekarang.
Suasana hening, karena penghuni kost lainnya sedang pulang kampung. Dari balik dinding masih sedikit terdengar percakapan Ibu pemilik kost dengan anaknya.

Anak : Bu
Ibu : Hmmm ?
Anak : BU !
Ibu : APA ?
Anak : Mmm, anu ... Saya tadi baru ikut pengajian rohis di Musholla sana itu. BU ! DENGERIN DONG !
Ibu : IYA ! Ibu ndengerin koq. Terus aja. Maaf, Ibu lagi repot nih. Susah banget masukin benang ke jarum ini sekarang. Rasanya mata ibu udah mulai rabun, 'kali ya ?
Anak : Bu !
Ibu : Apa sih ? Mau omong apa, Yang ?
Anak : Tadi, di sana seorang ustadz membahas soal jilbab. Katanya pake jilbab itu wajib. Bu, Mulai sekarang saya ma aku pake jilbab. Gimana Bu ?
Ibu : Jangan ...

Sang ikhwah tadi dari balik dinding makin menajamkan perhatian
pendengarannya.

Anak : Tapi itu perintah Allah. Kalau tidak patuh kita dosa, Bu.
Boleh ya, saya mau pake jilbab ?
Ibu : Ibu bilang JANGAN ...
Anak : GIMANA SIH IBU INI. Anaknya mau berubah jadi
baik koq malah nggak boleh. Pake jilbab itu banyak untungnya, Bu. Bisa
langsung dikenali keislaman kita, kita juga nggak akan diganggu
orang. Harga diri kita juga jadi terhormat. Gitu ... Gimana ? Boleh ya ?

Ibu : NGGAK !
Anak : Kenapa ? Atau ibu terpengaruh sama cerita Tante kali ya ? Bohong dia itu. Ustadz tadi bilang, jilbab itu bukan budaya Arab. Itu Syariat Islam. Islam yang shohih bukan sempalan. Dari dulu memang diwajibkan demikian, bukan trend baru-baru ini aja.

Ibu : Iya, iya Ibu ngerti. Tapi pokoknya JANGAN !

Anak : Jadi Ibu ngelarang saya nih... Pokoknya, Bu, saya mau tetep pake jilbab. Terserah Ibu mau bilang apa. Nggak ada ketaatan pada orang tua, kalau orang tua itu menyuruh maksiyat pada perintah Allah.
Ibu : Anak ini koq nggak ngerti amat sih. Ibu bilang jangan, jangan, JANGAN !!!

Anak : NGGAK, POKOKNYA BESOK SAYA MAU PAKE JILBAB. TITIK !
Ibu : JANGAN !
Anak : JILBAB !
Ibu : JANGAN !
Anak : JILBAB !!
Ibu : J A N G A N !!!
Anak : J I L B A A A A A A B !!!!

Sang ikhwah tadi sudah tidak dapat menahan keinginannya. Ia langsung keluar kamar, untuk bertemu ibu dan anak itu untuk membela yang menjadi keyakinannya. Tangannya sudah terangkat di depan pintu untuk mengetuk.... namun terdengar lagi kata-kata dari si ibu ...

Ibu : JANGAN JOKO, JANGAN! Kamu khan laki-
laki ....

Si ikhwah pun berlalu menjauhi pintu itu, tak jadi mengintervensi
argumentasi ibu-anak itu ...

tercatat dalam diriku " indahnya kesabaran mendengar dalam tiap langkah kehidupan"

kulirik jam dinding 00.45 ( kira2 segitulah :P)
bikin cofeemix lagi :)

bagianku terhadap kekasih cukup sudah
tiada tertahan tiada pula hanya setengah
setiap kali kutanya tentang hubungan
dia menjadi menawan karena kehormatan
aku berdiri antara cinta dan tiada
seperti berdiri diantara surga dan neraka
ditaman al-araf namanya
kadang berharap dan kadang berputus asa

apakah cinta itu ?

kubaca berulang ulang tulisan itu dari archive lama blogku ada yang mengena dihati :) entah bagian yag mana itu, "nikmatnya hidup ketika kembalikan padaNYA" itu yang terukir dihati entah jika nati sirna kembali

sampai juga aku buka lembaran2x hatiku di blog disini
http://suroto.blogspot.com/2007/06/pohon-aku-selalu-menggunakan-gambar.html

ada komentar akhwat yg cukup lama aku renungkan
aku letih aku lelah itu yang kurasa

Ass....mz qi_think..
Saat q bc ni,q ingin menangis...
krn q spt daun itu, n "ia" lksana phon itu.
Namun kisahq blm slsai, q msh ttp brthan pd phon itu, hal yg sbnrnya msh ingin q prjuangkan..q sdh mulai letih,angin pun smkin berhembus, meniupku perlahan-lahan, qmasih mcoba brthan...
Apkah kn spt crt ni pd akhrnya?
Phon itu msh ingin mnjgaq, namun ia sptnya akn membiarkanq tertiup angin. Tp q masih ingin brthan,q msih ingin mberikan topangan kehidupan (dgn mbuatkn mkanan utknya), mberi smngat...apkh q bdoh?hruskh q mnyerah dan biarkn diri ni trbw angin?
suroto said...

berikan cintamu pada seseorang yang mampu menghargai cintamu, dengan tetap dalam cintaNYA

aku tak tahu musti berkata apa, akupun merenungkan kembali komentarku itu, u tahu kini aku pun ada dilingkaran itu sekarang
aku berdiri pada angin yang berhembus, kini aku tahu n merasakan ketika masa sulit menjadi daun, karna dulu aku menajdi pohon sekarang aku menajdi anginya, haruskah aku terdiam tak berhembus bukankah itu menghentikan kehidupan? entahlah aku masih ingin menjadi peranku.

hanya mampu kukatakan pada pohon dan daun
karena aku sekarang adalah angin dan pernah jadi pohon
" pertahankan daunmu dengan kejutan dan kasih sayangmu, jaga dia pada rantingmu dengan sebuah ikatan kepastian suci yang meneduhkan. disitulah kerindangan hijau terbentuk dengan sempurna, karena daun ingin terlihat sempurna dalam SujudNYA"

"daun tidak pernah salah meski menganggap salah.. karena dia ringan terombang ambing kepongahan angin.. jadikan engkau layu kering menyatu dengan angin atau tetap hijau dalam ranting pohon adalah hal yang pasti. karena angin tak bisa berhenti bertiup"

// aku tertegun ketika aku dalam posisi yg berbeda akupun telah berubah ( membosankan)

02.30
waktunya sholat malam ( tumben rajin juga :)) )
aku tersentak berhenti dalam lamunanan
adzan shubuh telah berkumandang
hal yang pasti tak kutemui,, haruskah aku berhenti bernyanyi ?
aku terbaring tak jua beranjak
hari ini aku telat shubuh lagi meski kutahu adzan telah menanti

teringat kembali kata " keep Is simple Stupid " 23 november silam


09 May 2008

takdir cinta

ku tutup mataku
dari semua pandanganku
bila melihat matamu
ku yakin ada cinta
ketulusan hati yang mengulir lembut

penguasa alam tolonglah pegangi aku
biar ku tak jatuh pada sumur dosa
yang terkutuk dan menyesatkan cintaku

andaikan ku bisa lebih adil
pada cinta kau dan dia
aku bukan nabi yang bisa sempurna
ku tak luput dari dosa

biarlah ku hidup seperti ini
takdir cinta harus begini
ada kau dan dia bukan ku yang mau
oh Tuhan tuntunlah hatiku

lagu yang merdu semerdu perupaan hati yang aku jalani
"aku telah menyakiti hatimu"
ahh kata yang sering aku dengar perlahan tapi membosankan
menyalahkan diri sendiri dalam keterpurukan tak pasti
untuk apa?

bukankah rasa sakit itu pasti terjadi? kenapa harus takut? bukankah imanmu bertambah denganya ?

aku tak mampu ungkapkan kebekuan hatiku dalam sapa
tertulis dalam guratan yang mungkin teringkari

"teduhkanlah hatimu
biarkan kerjernihan hati yang menyapa
katakanlah pada duri yang sepi ini
aq hanya ingin melihat senyum itu tak pernah pergi"

ketulusan hati kadang terlihat menyakitkan
ketika rasa itu menjadi sapaan keluh yang meletihkan

aku hanya tersenyum tak berkata - kata
ketika kau tak mampu melihatnya
tapi aku menikmati rasa itu

"Kamu mungkin akan melupakan orang yang tertawa denganmu,
tetapi tidak mungkin melupakan orang yang pernah menangis denganmu."

karena itu aku ingin membuatmu tertawa bukan melihat tangismu karena engkau kekasih dihatiku
karena aku ingin u bahagia dan melupakan aku ketika u mendapatkanya.
lab komputer 11.00
i am standing in timeless dream of light mists of pale anber rose..